Rabu, 04 April 2012

Kritis Terhadap Realitas...

Kita adalah bagian dari realitas sosial. Realitas sosial adalah kondisi kehidupan kemasyarakatan di sekeliling manusia tersebut. Keluarga adalah realitas sosial terkecil dalam kehidupan ini. Karenanya, manusia adalah pemeran utama dalam realitas sosial. Peran ini sesuai dengan pilihan-pilihan manusia itu sendiri. Boleh jadi dalam waktu tertentu, manusia berperan sebagai seorang Ayah,  Guru, Penegak Hukum, Petani, atau sebagai seorang Tenaga Medis.

Realitas sosial diciptakan oleh setiap manusia. Kenyataan yang terjadi disekitar manusia, dimainkan atau di produksi oleh si pelaku. Karena itulah peran-peran yang dimainkan oleh pelaku, akan sangat menentukan bagaimana realitas sosial yang akan terjadi di lingkungannya. Kemudian media massa cetak atau elektronik akan mengkontruksi realitas tersebut, jadilah ia realitas media.

Peran manusia dalam realitas sosial ditentukan oleh pengalaman hidup yang telah dialaminya,  budaya yang terjadi semasa hidupnya, dan pendidikan yang dimilikinya. Dalam realitas sosial, kontruksi media massa baik cetak atau elektronik terhadap realitas sosial itu sendiri, sangat dominan memainkan isu. Artinya apa yang dilakukan manusia dalam realitas sosial juga tergantung sejauh mana informasi yang diterima manusia.

Meminjam istilah George Gerbner dalam teori kultivasinya, kekerasan yang di lihat di layar televisi membuat khalayak atau konsumen mempersepsikan dunia sebagaimana yang ditunjukan oleh media atau televisi itu, maka khalayak akan mempersepsi dunia dengan kekerasan.

Teori ini dapat di mengerti bahwa sebuah adegan, sebuah kisah atau sebuah kejadian yang dipertontonkan oleh televisi, kemudian di tonton secara terus menerus, maka penonton yang melihat tersebut akan mengakui bahwa apa yang dikontruksi televisi tersebut benar begitu adanya. Diartikulasikan bahwa kisah semu yang dipertontonkan di televisi akan menjadi kisah nyata dalam kehidupan manusia.

Contoh nyata bahwa persepsi seseorang dipengaruhi oleh media, adalah perjalanan seorang Masnur Muslich (2009) yang mendapatkan tugas mengajar di Pattani Thailand Selatan dari Universitas Negeri Malang. Sampai saat ini daerah Pattani diberitakan sebagai basisnya teroris di Thailand. Pemberitaan baik di televisi dan media cetak internasional, menyebutkan daerah Pattani adalah sumber teroris di Thailand.

Ketika Masnur pertama kali menginjakkan kaki di tanah Pattani, dia sangat waspada akan keselamatannya, berhati-hati dengan bom bunuh diri yang setiap saat mengancam. Namun bertolak belakang dengan apa yang dipersepsikannya selama ini. Tidak ada tanda-tanda teroris, tidak ada bom bunuh diri, bahkan masyarakat di sana sangat ramah, dalam kehidupan yang beragam. (lihat Kekuasaan Media Massa Mengkontruksi Realitas ; Masnur Muslich)

Dari sedikit pengalaman Masnur di atas menyebutkan bahwa realitas yang dibangun oleh media akan menggiring persepsi publik, kepada kepentingan para pemegang media dengan berbagai macam motif, pragmatis atau ideologis, tanpa diketahui oleh publik, apa, bagaimana dan mengapa harus realitas itu yang diangkat oleh media?

Kritis terhadap realitas

Banyaknya Stasiun Televisi di Indonesia (TVRI, RCTI, Global TV, ANTV, Trans TV, TV One, Metro TV, TPI, O Chanel, SCTV, Indosiar dan lain-lain), sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, memberikan banyak pilihan bagi pelaku realitas sosial dalam menyerap informasi. Mengingat begitu banyaknya ruang tontonan ini, seharusnya kita memiliki selektivitas dalam memilihnya untuk menjadi kebutuhan sekunder kita.

Makin banyak media yang disediakan, maka makin banyak juga ruang informasi yang akan didapatkan olah masyarakat. Informasi yang beragam ini menjadi stimulus persepsi dalam realitas sosial.

Begitu banyaknya ruang informasi dari media, ada pertanyaan yang muncul, ketika manusia menempatkan media televisi atau media cetak menjadi kebutuhan sekundernya (sebagian masyarakat menjadikan tontonan televisi menjadi kebutuhan wajibnya), dimana posisi kita? Kritis atau terbawa arus?

Sikap kritis kita terhadap media, akan menjadikan kita sebagai agent of control social dilingkungan kita. Namun ketika kita terbawa arus media maka saat itu kita akan memperkeruh suasana, atau jangan-jangan kita akan membuat permasalahan semakin kacau.

Contohnya begini, Gramsci menyimpulkan bahwa budaya barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang. Sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya barat. Jika tidak demikian maka negara berkembang akan klaim sebagai negara terbelakang.

Jakarta di tahun 70-an, tidak ada diskotik, pub, billiard. Namun ketika media mengkontruksi ruang hiburan barat ini, tanpa ada sikap kritis dan solutif, lambat laun media-media hiburan tersebut masuk ke Indonesia. Begitu juga dengan VCD dan DVD juga cyber media. Ditahun-tahun 90-an belum ada, namun saat ini semua tersedia. Siapa saja dapat mengakses dan membelinya.

Yang terjadi selama ini, ketika masuknya budaya-budaya katakanlah dugem, budaya pop, kita tidak menempatkan diri sebagai masyarakat yang kritis. Sebaliknya budaya-budaya ini diimitasi, bahkan dijadikan komoditas bagi para pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan terbukti dengan kasus maraknya VCD atau DVD bajakan.

Jika saja sikap kekritisan kita itu jauh lebih besar dari pada sikap imitative, maka dengan sendirinya budaya-budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemasyarakatan kita, akan terfilterisasi, dan kita buang jauh-jauh. Dalam artian budaya yang baik kita lestarikan, dan budaya yang buruk kita tinggalkan. Dalam menghadapi realitas sosial baik yang di kontruksi media atau tidak, sebagai masyarakat sikap kritis harus kita lestarikan. Segala sesuatu yang terjadi apabila kita hadapi dengan sikap kritis, maka pertanyaan-pertanyaan apa dampaknya bagi kehidupan kita? Apakah berakibat positif atau negative bagi kita?Akan senantiasa kita ucapkan sebagai langkah yang tepat dalam menimbang baik dan buruknya sesuatu yang baru bagi kita.

Melestarikan sikap kritis artinya senantiasa menimbang baik dan buruknya setiap kejadian yang terjadi di lingkungan kita. Menimbang manfaatnya bagi masyarakat umum dan bagaimana kita menempatkan diri dalam realitas tersebut.

Realitas media, berupa hiburan, film, sinetron kecuali berita, adalah realitas semu. Karenanya sikap kritis ini harus kita lestarikan, agar kita bisa menimbang sesuatu realitas baik realitas media atau realitas sosial dari sisi baik dan buruknya serta manfaatnya bagi kita semua.

Dalam Al Quran telah dijelaskan dalam suroh Al Hujuroot ayat 6 "Hai orang-orang yang beriman jika seseorang yang fasik datang kepada mu membawa suatu berita, maka telitilah dulu kebenarannya. Agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu (kecerobohanmu) yang akhirnya kamu menyesali perbuatan mu.

Semoga kita senantiasa kritis dalam hal-hal yang baru dalam kehidupan kita, apalagi jika sudah jelas-jelas merusak moral, dan bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan. Wallahu'alam bisshowab.Fajri al-Bankulani

Selasa, 03 April 2012

Budaya Membaca Santri Ruhul Jadid

Kompetensi literasi yaitu kemampuan dasar seorang siswa dalam hal mendengar, membaca, menulis dan berbicara. Menurut Najib Sulhan; 2010, kegagalan seorang siswa dalam belajar salah satunya karena siswa tidak memiliki kompetensi literasi. Sementara itu, pada umumnya, kegagalan sekolah dalam mendidik siswanya karena sekolah tidak menerapkan pola pembelajaran literasi yang terpadu. 


Kemampuan mendengar

Kemampuan mendengar (audio) adalah kemampuan dasar bagi seorang siswa dalam mendengar dan menyerap apa yang disampaikan oleh guru, baik di kelas atau di luar kelas. Dengan kemampuan mendengar yang baik, tentu pelajaran yang disampaikan oleh guru akan dapat diserap dengan baik pula. Apabila siswa tidak memiliki kemampuan mendengar yang baik, atau dengan kata lain, terjadi gangguan terhadap pendengaran, maka akan terjadi distorsi pemahaman pembelajaran pada anak didik.

Oleh karena perlu diciptakan pembelajaran yang tidak hanya selalu di dalam kelas karena jarak suara kepada siswa menjadi kendala bagi siswa yang kurang memiliki pendengaran dengan baik. Terlebih lagi apabila suara guru juga sayup-sayup terdengar. Sewaktu-waktu guru juga harus kreatif dalam pembelajaran, contohnya bisa membawa speaker di kelas ketika melakukan proses pembelajaran, atau pihak sekolah berusaha memiliki ruang audio visual untuk pembelajaran.

Harapannya kondisi seperti ini dapat memfasilitasi anak didik yang mengalami kendala khususnya pada pendengaran. Tentu sangat bijak bagi sekolah tersebut, yang apabila mendapati nilai anak didik buruk, kemudian tidak hanya menyalahkan si anak didik, tapi berusaha memperbaiki dan melihat ke dalam, apa yang kurang dengan sekolah ini sehingga ada anak yang mendapatkan nilai buruk.

Kemampuan membaca

Kemampuan membaca adalah sarana dalam menyerap ilmu pengetahuan yang bersifat pribadi. Bahasa tulisan yang ada di dalam buku, ditransfer oleh siswa, menjadi sebuah makna. Dalam terminologi Ilmu Komunikasi, tulisan adalah tanda, tulisan adalah simbol yang mewakili makna dalam sebuah realitas. Dengan tulisan seorang siswa memaknai sebuah tanda, dengan tulisan pula sebuah realitas dapat bernilai. Bahkan peradaban ilmu pengetahuan di dunia ini di mulai ketika ada tulisan.

Kecepatan mata dan daya rekam otak menjadi sangat penting bagi siswa ketika dia membaca. Dua indera manusia ini akan saling membantu dalam proses pemaknaan dalam memori berfikir seorang anak. Dalam membaca mata tertuju dengan tulisan, sementara daya rekam memaknai tanda dan simbol yang ada dalam tulisan. Penting sekali untuk diperhatikan, pencahayaan adalah alat bantu dalam proses membaca, pastikan bahwa anak tidak ada gangguan mata pada saat membaca, dan pencahayaan sangat mendukung dalam kegiatan membaca.

Mengetahui pentingnya kemampuan membaca ini, maka motivasi harus dilakukan baik dari dalam diri anak didik, atau pihak sekolah memberikan fasilitas kepada anak dengan menyediakan waktu wajib membaca (reading time).


Ada pelajaran berharga yang kami jadikan motivasi, bagi Pesantren Al Qur'an SMPIT Ruhul Jadid ketika membuat peraturan reading time  bagi santri. Pelajaran berharga tersebut kami dapatkan dari tulisan Lina Marlina (29 Mei 2009 : Kebiasaan membaca di Jepang)  yang mengungkapkan pengalamannya waktu berada di Jepang.

Jepang adalah Macan Asia, di mana segala kemajuan, mulai dari kemajuan perekonomian hingga teknologi, berjalan sangat pesat. Pada dasarnya, kemajuan yang dicapai Jepang pada saat ini merupakan buah dari kerja keras pemerintah Jepang untuk membangun budaya literasi yang dimulai sejak dari bangku sekolah dasar.
Pemerintah Jepang membuat kebiasaan membaca diawali dari sekolah. Guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini dikuti dengan reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. 
Awalnya, pelaksanaan regulasi tersebut memang sulit dilakukan, mengingat para murid memiliki latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda. Namun, karena pola pendidikan di Jepang didesain sedemikian sehingga berkesinambungan dengan pola pendidikan di rumah, sehingga dalam pelaksanaannya, orangtua juga proaktif mengembangkan kebiasaan baca di sekolah.

Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama anak-anak sekolah dasar diwajibkan membaca buku apapun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah. Tidak hanya itu, pola pendidikan di Jepang juga dibuat untuk mendorong siswa agar aktif membaca, seperti mempresentasikan karya sastra klasik, membuat kelompok story telling berdasarkan buku yang telah dibacanya untuk kegiatan amal yang berlangsung pada akhir tahun pelajaran. 

Hasilnya, budaya baca yang telah tertanam pada pelajar di Jepang rupanya membuat siswa-siswa ini secara sadar dan mandiri membuka ruang-ruang diskusi ilmiah informal di luar jam pelajaran mereka, dengan salah satu agendanya adalah membahas banyak buku-buku yang tengah terbit ataupun fenomenal.
Di Pesantren Al qur'an SMPIT Ruhul Jadid, sekarang sudah mulai menerapkan reading time. Pihak Sekolah menetapkan bahwa setiap hari Sabtu jam 10.30 - 11.30 adalah jam wajib membaca bagi santri. Membaca buku sastra atau non sastra kecuali komik. Kami juga mewajibkan kepada santri untuk mendiskusikan apa yang telah di baca kepada santri-santri lain. Harapannya adalah reading time ini dapat menjadi gerbang awal bahwa membaca adalah budaya santri di Pesantren Qur'an SMPIT Ruhul Jadid. Fajri al Bankulani
 

Senin, 02 April 2012

Semoga Bahagia Selamanya

Kami seluruh civitas akademika Pesantren Al Qur'an SMPIT Ruhul Jadid, mengucapkan selamat menempuh hidup baru bagi guru kami ust. Muhammad Muhdi Al Hafidz dengan Santy Kusumawati. Yang telah melangsungkan pernikahan pada tanggal 25 Maret 2012 di Masjid Baitul Ihsan BI.

Semoga keduanya berbahagia dan cepat dikaruniai momongan. Semoga keduanya dihimpun dalam mahligai rumah tangga yang sakinah mawaddah warohma.

Barokallahulaka wabaroka'alaika wajama'a bainakuma fii khoiirr............... Amien...... FA

Syair Imam Syafi'i Agar Kita Sukses

أخي لن تنا  العلم إلا بستة سأ نبيك عن تفصيلها ببيان 
ذكا ء وحرص واجتهاد وصحبة استاذ وبلغة وطول زمان


Salam hangat dari kami, santriwan dan santriwati Pesantren Qur'an SMPIT Ruhul Jadid, Tigaraksa Kabupaten Tangerang Banten. Semoga kita kemarin, hari ini dan esok, akan senantiasa istiqomah dalam dinullah Islam. Sholawat dan salam semoga senantiasa kita sampaikan kepada nabi agung, tauladan bagi kita semua.

Kami yang sedang fokus menghafal qur'an, dan menempuh pendidikan SMP di pesantren Ruhul Jadid, ingin berbagai semangat dan pesan untuk kita semua, pesan semangat untuk para penuntut ilmu dimanapun kita berada, terutama untuk para santri-santri yang sedang menghafal qur'an. 

Pesan ini datang dari Imam Syafi'i, beliu adalah seorang ahlul hadits, yang dilahirkan di Gaza, dan menuntut ilmu di Makkah, salah satu guru beliu adalah Imam Malik, penulis kitab Al Muwattho. Imam Syafi'i adalah seorang imam yang diberikahi hidupnya dengan ilmu, dia hafal qur'an pada usia belum genap 12 tahun.  Beliau memiliki syair yang sangat mahsyur dikalangan para pelajar. Sebagaimana tertera di atas, kata Imam Syafi'i " Saudaraku, kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam hal, aku akan memberitahukannya kepada kalian dengan jelas. Yaitu Kecerdasan, tekad kuat, bersungguh-sungguh, memiliki bekal, menyertai guru dan waktu yang panjang. (dikutip dari buku cara mudah dan cepat menghafal Qur'an karya DR. Yahya bin Abdrrazzaq al-Ghautsani)

Pesan semangat ini adalah motivasi yang sangat berharga bagi kita. Para santri yang sedang menutut ilmu dimanapun hendaklah mengambil pesan ini sebagai ruh dalam jiwa, untuk kesuksesannya di masa yang akan datang. 

Kesuksesan, keberhasilan, beradanya seseorang di puncak kejayaan pasti sebelumnya akan memegang teguh prinsip ini. Pabila kita melihat sebuah rumah, kecerdasan adalah dinding menuju bangunan sukses, pondasi utamanya adalah tekad yang kuat, kesungguhannya adalah atap rumah kesuksesan, bekalnya adalah kamar-kamar yang ada didalam rumah tersebut, menyertai guru dan waktu yang panjang berbalut istiqomah adalah jalannya. Semoga kita mampu meraih cita-cita kita.....Fajri al Bankulani

Rabu, 28 Maret 2012

Tim Marawis RJ juara Festival Marawis Islamic Book Fair 2012

Tim Marawis Ruhul Jadid


Alhamdulillah, meskipun tanpa persiapan yang matang, Tim Marawis SMP Al Qur'an Terpadu Ruhul Jadid yang diketuai oleh Moulia Fathul Hamda (kelas IX) berhasil menyabet juara 2 Festival Marawis Islamic Book Fair 2012. Menurut Pimpinan Pesantren Ruhul Jadid ust. Taupik, "Keberhasilan ini tidak lepas dari intensitas penampilan tim marawis di berbagai even, termasuk undangan dari masyarakat, seperti khitanan atau pernikahan, sehingga meskipun harus tampil mendadak, insya Allah mereka senantiasa siap."

Dalam event tahunan ini, tim marawis RJ, membawakan 1 lagu utama berjudul narwatil ayyam dan 1 lagu pilihan Annabi shollu'alihi. Ketika tim yang divokali Nouval ini tampil, sontak seluruh pengunjung IBF 2012 bertepuk tangan sorak sorai. Terlebih ketika jingle Ruhul Jadid dibawakan banyak penonton yang mengambil gambar.

"Semoga keberhasilan dalam event ini, diiringi dengan prestasi pada bidang yang lainnya" tutur Ustad Taupik pada tim jurnalistik Ruhul Jadid. fa

"Menemukan cinta di SMP Al Qur'an Terpadu Ruhul Jadid"

Setelah lama tidak bertemu dengan ustad Joko, mungkin sekitar 2 tahun, tak disangka bertemu, itupun ketemunya karena mas Fajar menawarkan beras organik, dan ada yayasan baru mau minta konsep pembuatan SMP Islam Terpadu. Pertemuan pun tidak berlangsung lama, ya kira-kira hanya 1 jam di SMP IT Auliya Jombang, antara mas Fajar dengan ustad Joko.

Singkat cerita, keudanya berjanji akan bertemu lagi pada dua pekan setelah pertemuan pertama. Pada pertemuan tersebut, ustad Joko akan membawakan konsep proposal pembuatan SMP Islam Terpadu. Dan taklama, keduanya bertemu kembali, di tempat yang sama, namun bedanya ditutup dengan makan siang di tempat jual soto santen tidak jauh dari SMP IT auliya.

"Mas Fajar, saya mau berbicara serius, tapi kita sambil makan soto ya", ucap ustad Joko membuka pembicaraan. "Na'am tad, insyallah". balas mas Fajar. Sambil makan, keduanya berbicara panjang lebar.....

"Begini mas Fajar, saya selama ini sedang mencari seorang kepala sekolah, untuk memimpin SMP Al Qur'an Terpadu di daerah tiga raksa", "oh begitu tad, apa hubungannya dengan saya?". "Saya ingin menawarkan dengan mas Fajar, untuk menjadi Kepala Sekolah di sekolah saya, bagaimana mas?" 

Mendapat tawaran begini, mas Fajar tidak kaget, karena selain pedagang, memang dia adalah pengajar (guru ngaji) di lembaga qur'an diseputara BSD Tangerang Selatan. "oooh begitu tad, untuk jawabannya saya tidak bisa sekarang menjawabnya, saya diskusikan dulu dengan istri ya tad". "oh ya, tapi jangan lama-lama ya mas Fajar, karena kami sangat membutuhkan kepala sekolah yang baru, berkenaan dengan tempat tinggal, insyallah pihak sekolah menyediakan tempat tinggal.

"Dek, mas dapat tawaran jadi kepala sekolah di tiga raksa, adek setuju nggak". "Dimana mas, tigaraksa...... yaa jauh dong........". "ya jauh sih jauh, tapi pihak sekolah menyediakan tempat tinggal lho de....." "Nggak ah adek nggak setuju, pokoknya kita di sini saja, nggak usah pergi kemana-mana, kasiah ibu udah tua, nggak ada lagi yang masak, kasian ama babe, nggak bisa melihat cucunya lagi.......... 

Begitulah, akhir ceritanya, pada awalnya, istri mas Fajar sangat tidak setuju, mengingat kondisi kedua orang tuanya yang sudah tua..................................................

Bersambung.......

Selasa, 27 Maret 2012

Mendidik Santri Berkarakter Al Qur'an


Ketika malaikat Jibril memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca Al qur'an pada saat Allah menurunkan wahyu yang pertama yaitu suroh Al 'Alaq..... maka sesunguhnya pada saat itu Jibril sedang memulai membentuk Muhammad menjadi seorang yang berkarakter al Qur'an. Dan puncak keberhasilan malaikat Jibril membentuk karakter al Qur'an ini kepada Muhammad ketika Allah   mengatakan kepada kita semua bahwa gambaran karakter muhammad itu adalah وإنل لعل خلق عظيم (dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung)  QS. 68 : 4.

Karakter sebagaimana termaktub dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang, pun dengan seorang anak. Sedangkan menurut para psikolog di belajarpsikologi.com adalah kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh seseorang. Pemahaman mendidik santri berkarakter al Qur'an adalah mendidik santri agar senantiasa memiliki sifat-sifat dan kebisaan yang sesuai dengan al quran.

Semua orang tua sangat menginginkan anaknya memiliki akhlak yang baik, apalagi memiliki karakter al Quran, pasti tidak ada satupun yang kontra dengan keinginan ini. Untuk itu patut kita ajukan pertanyaan kepada para orang tua. Bagaimana caranya agar anak memiliki karakter al Qur'an? Ibarat sebuah cita-cita yang sudah dipatri dalam visi dan misi orang tua terhadap pendidikan anaknya, maka langkah berikutnya yang dilakukan adalah memasukkan anaknya ke sekolah yang juga mendidik santri-santrinya memiliki karakter Al Qur'an.

Mendidik santri berkarakter Qur'an, ya tugas besar inilah yang saat ini kami emban, dibawah payung SMP Al qur'an Terpadu Ruhul Jadid. Sekolah setingkat SMP dengan memiliki sistem pesantren Al qur'an Terpadu, yang beralamat di jalan raya kutruk Pemda desa Margasari Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang Banten dengan kontak (021) 5994170.

Untuk membentuk santri berkarakter Qur'an, maka setiap hari santri-santri senantiasa berinteraksi dengan Al qur'an, dibawah bimbingan 4 orang ustad dan ustazah yang hafal qur'an, serta 95 % gurunya tinggal di dalam lingkungan pesantren. Kondisi ini sangat baik karena wali asrama, pimpinan pondok, dapat langsung mengawasi, memotivasi santri agar senantiasa berada pada tujuan awal belajar yaitu menjadi sholeh, berprestasi dan mencintai Al qur'an.

Aktivitas yang dilakukan selain melakukan kegiatan formal (pendidikan SMP) santri disempurnakan dengan pembiasaan kegiatan al qur'an (tahsin, tahfidz dan tasmi' hafalan Qur'an), bahasa arab, bahasa Inggris, pembacaan hadits riyadhussholin, dan halaqoh tarbawiyah. Keseluruhan kegiatan yang dilakukan dalam lingkungan pondok pesantren adalah membangun pembiasaan kepada santri. Hal ini dilakukan agar kebiasaan-kebiasaan baik akan menjadi budaya santri, yang pada akhirnya menjadi karakter.

Mengafirmasi santri..
 
Sistem terpadu yang telah diterapkan di SMP Al Qur'an Terpadu Pesantren Ruhul Jadid, alhamdulillah mendapat respon yang baik di tengah masyarakat. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah santri yang mendaftar. Nah pada tahun ajaran baru 2012/2013, kami melakukan lompatan besar dalam jumlah hafalan santri. Kewajiban santri yang hanya 5 juz hafal Al qur'an, menjadi 30 juz. 

Lompatan besar ini sudah mulai dilakukan dengan membuat program afirmasi berbentuk tekad santri Ruhul Jadid yaitu; hormat dan patuh kepada orang tua dan guru, berkata dan bersikap jujur, berdisiplin dan tepat waktu, bersih rapi dan sehat, ramah dan berkasih sayang, bertanggung jawab dan peduli kepada sesama. Sebagaimana sholat wajib dilakukan 5 waktu, maka program afirmasi ini juga dibaca 5 waktu dalam sehari semalam setiap ba'da sholat fardhu. 

Walaupun baru berjalan 2 pekan, Alhamdulillah sudah terlihat hasilnya. Misalnya, 20 menit sebelum sholat 5 waktu, santri-santri sudah berada dalam masjid, tasmi' dan muroja'ah bersama teman-temannya. Santri juga semakin terbiasa sholat malam dan mandi lebih pagi, Alhamdulillah..

Oleh karena itu, kami mengundang kepada calon orang tua santri, untuk berkunjung kepada kami, untuk mengenal lebih jauh SMP Al QUr'an Terpadu Pesantren Ruhul Jadid.