Fajri al-Bankulani*
Puncak dari aktivitas pendidikan di semua
tingkat SD, SMP dan SMU akan berakhir pada April – Mei tahun ini. Sebagai orang tua yang baik, kemungkinan
sudah memilih dan memilah Sekolah
tempat anaknya melanjutkan pendidikan. Ada yang sudah dapat, tapi ada juga yang
belum dapat, bahkan kemungkinan besar masih ada yang bimbang. Memilih dan memilah Sekolah, haruslah
dilandasi dengan pemahaman yang baik atas Sekolah tersebut. Jangan sampai
terjadi penyesalan di akhir pendidikan anak, karena tidak selektifnya orang tua
memilih Sekolah di awalnya.
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil. Bangga apabila anak berhasil menjadi
seorang Dokter, Insinyur. Apalagi jika anak kita mampu menyelesaikan studi ekonomi di Harvard University,
sekolah ekonomi yang sangat terkenal itu. Inilah keinginan kita atau cita-cita. Ibarat satu bangunan piramida,
maka cita-cita dan kesuksesan adalah puncaknya.
Guna mengejar cita-cita tersebut, oleh
orang tua, anaknya diikutkan berbagai kegiatan di masa kecilnya. Bimbel, les
bahasa Inggris, les melukis, piano, menyanyi dan lain-lain. Dengan harapan
bahwa anaknya memiliki keterampilan dan menguasai pelajaran tersebut. Walaupun
dengan harus membayar mahal, tidak sedikit orang tua rela menggadaikan harta,
guna keberhasilan anak-anaknya di masa yang akan datang, sungguh sebuah
perjuangan.
Sepintas hal ini sangat lumrah bahkan
sangat wajar. Karena sebagian besar orang tua masih menganut pribahasa berakit-rakit
ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu senang kemudian. Namun, apabila
dianalogikan dengan bangunan atau piramida, maka pada masa anak-anak seharusnya
orang tua membuat pondasi (karakter) yang kuat, jika sewaktu-waktu terjadi
badai atau gempa, maka akan kuat menahan badai yang datang, dan kuat menahan
goncangan dari gempa. Dan apabila pondasinya tidak kuat, maka dapat dipastikan
bahwa piramidanya akan
hancur.
Membangun pondasi pada anak adalah
membentuk karakter. Karakter adalah kebiasaan yang sering dilakukan. Pendidikan
karakter yang saat ini sedang hangat, dilakukan oleh dua institusi, pertama
Sekolah dan kedua Keluarga. Membentuk
karakter adalah membentuk kebiasaan-kebiasaan baik pada anak. Artinya orang tua yang telah
memiliki visi dan misi membentuk karakter pada anaknya, harus juga
memperhatikan sekolah yang akan dipilihnya untuk anaknya.
Maka
kita patut berbangga ketika pada akhir tahun 2000-an mulai menjamur
Sekolah-Sekolah Islam Terpadu. Adanya SDIT, SMPIT atau SMUIT, saya menyakini
bahwa ini adalah lembaga pendidikan yang mengupayakan anak didiknya memiliki
karakter yang baik.
Menyoal tentang pendidikan karakter
anak, menarik jika kita mentelaah
pandangan Al-Ghazali tentang anak. Menurutnya “anak adalah amanah di tangan ibu
bapaknya. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia
dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar
dengan sifat-sifat baik dan akan bahagia di dunia akhirat. Sebaliknya bila ia
dibiasakan dengan tradisi-tradisi buruk, tidak dipedulikan seperti halnya
hewan, niscaya ia akan hancur dan binasa”. (Dalam Ahmad Syarifudin : Mendidik
Anak Mencintai Al qur’an)
Anak itu seperti selembar kertas putih.
Apa yang pertama dituliskan, maka itulah yang akan membentuk karakter dirinya.
Bila yang pertama ditanamkan adalah warna agama, kesolehan, kejujuran, dan
keluhuran budi pekerti, maka sifat-sifat tersebut akan terbawa sampai ia
dewasa. Akan terbentuklah antibody (zat kebal) pada anak akan pengaruh negatif,
seperti benci kesombongan, rajin ibadah, tidak membangkang pada orang tua.
Namun
jika pada awalnya tidak ditanamkan
warga agama dan keluhuran budi pekerti, maka yang muncul adalah antibody
pengaruh positif, seperti malas beribadah, malas belajar, gila pujian, angkuh
dan sebagainya. Dalam syair bahasa arab dikatakan man syabba ‘ala syai in
syabba ‘alaihii (barangsiapa
membiasakan sesuatu semenjak kecil maka diakan terbiasa dengannya hingga
dewasa).
Realitas yang kita tonton hari ini,
memberikan warna negatif.
Profesi seseorang bertolak belakang dengan karakter yang harusnya ia miliki. Dokter
melakukan praktek aborsi ilegal, dosen
melakukan plagiat karya ilmiah guna mendapatkan gelar doktor, guru yang
mengajarkan kekerasan, polisi yang menikmati narkoba, hakim yang di sogok,
pejabat korupsi, siswa SMP melakukan mesum di kelas, tawuran pelajar, sampai
anggota DPR RI juga melakukan korupsi. Kondisi ini terjadi, menurut hemat
penulis, karena pondasi agama yang tidak kuat ditanamkan orang tuanya ketika
masih anak-anak.
Tentu kita sebagai orang tua sedih dan
bahkan mungkin bisa stress mengetahui anaknya yang sudah berhasil menjadi
pejabat, namun di penjara karena melakukan perbuatan asusila. Oleh karena itu
sangat penting apabila kita memperhatikan pesan Ibnu Khaldun. Penulis mengutip
pesan Bapak Sosiologi dunia ini sebagai landasan yang kuat untuk menanamkan
pendidkan Al Qur’an sebagai-pilihan utama dalam mendidik anak.
“Setiap orang tua, harus mengupayakan
mendidik anak agar mencintai Al Qur’an, menanamkan pendidikan Al Qur’an sejak
dini karena pendidikan Al Qur’an adalah fondasi seluruh kurikulum pendidikan di
dunia Islam, karena pendidikan (karakter) Al Qur’an merupakan syiar agama yang
mampu menguatkan akidah dan mengokohkan keimanan. (Mukadimah Ibnu Khaldun :
461).
Dengan menanamkan kecintaan anak terhadap
Al Qur’an, insyallah kita telah membentuk anak kita berkarakter Al Qur’an.
Kondisi ini akan mengalahkan kecintaan anak-anak kita terhadap hal yang lain.
Karena pada masa anak-anak inilah waktu yang paling sempurna dalam pembentukan
karakter pada anak.
Melengkapi tulisan ini satu pribahasa yang
kita yakin akan hikmahnya adalah belajar di waktu kecil seperti melukis di atas
batu, sedangkan belajar di waktu besar seperti melukis di atas air. “Setiap bayi dilahirkan atas fitrah
(tauhid keimanan). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya memeluk Yahudi,
Nasri atau Majusi (HR. Bukhari I : 240)
Maka pertanyaan terakhir yang saya ajukan
adalah, mau seperti apa kita mendidik anak?
·
Penulis adalah Kepala Sekolah Pesantren Al Qur’an SMPIT Ruhul Jadid
TIgaraksa Banten